Doktrin-Doktrin Karl Max
Lewis
A Coser.1977. Master of Sociological Thought, Ideas in Historical and Social
Context.
Second edition. New York. Harcourt Brave Jovanovich, Inc.
Karl Max memunculkan konsep ‘society’ sebagai sebuah gerakan
keseimbangan dari kekuatan antitesis yang melahirkan perubahan sosial dari
adanya perjuangan-perjuangan dan ketegangan-ketegangan. Perjuangan bagi Marx
merupakan mesin kemajuan, pertentangan merupakan induk dari segala sesuatu dan
konflik sosial adalah inti dari proses historis. Manusia pada dasarnya adalah
‘hewan yang tidak pernah terpuaskan’. Ketika kebutuhan dasarnya sudah
terpenuhi, dia akan menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru dan produksi
kebutuhan-kebutuhan yang baru ini adalah kejadian sejarah yang pertama kali.
Dalam upaya memuaskan kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder, manusia akan berada
dalam sebuah kerjasama yang antagonistik seperti halnya mereka meninggalkan
keprimitifan, tahap komunal atau kebersamaan dari pembangunan. Setelah
pembagian kerja muncul dalam masyarakat, pembagian ini mendorong munculnya
bentuk-bentuk pertentangan kelas. Kategori-kategori dan ide-ide tidak lebih
abadi dari relasi-relasi yang ada. Kategori-kategori dan ide-ide adalah
produk-produk sejarah yang sementara. Ketika ahli-ahli ekonomi klasik melihat
adanya pembagian tripartite antara pemilik tanah, kapitalis dan pencari upah
sebagai tatanan alamiah yang given, Marx melihatnya sebagai sebuah hubungan-hubungan
dari keadaan yang secara historis bersifat sementara. Kekhususan sejarah adalah
cirikhas pendekatan Marx. Anatomi masyarakat sipil harus dilihat secara politik
ekonomi.
http://spartacus-educational.com
Perubahan sistem-sistem sosial
bagi Marx, tidak dapat dijelaskan oleh faktor-faktor yang bukan sosial seperti:
geografi atau iklim, karena perubahan ini sebenarnya relatif konstan ketika
berhadapan dengan sebagian besar perubahan-perubahan historis. Marx mempelajari
pendekatan holistik dari Hegel dan Montesquieu. Menurut marx, masyarakat secara
struktural berkaitan dengan keseluruhan. Oleh karena itulah, setiap aspek dari
keseluruhan baik itu prinsip-prinsip hukum, sistem-sistem pendidikan, agama,
maupun seni, tidak dapat dipahami dari dalam unsur-unsur tersebut. Masyarakat,
tidak hanya dibentuk oleh keseluruhan tetapi juga membangun keseluruhan
tersebut. Dalam hal ini kontribusi Marx adalah dalam mengidentifikasi
variabel-variabel bebas yang memainkan bagian minor dari sistem Hegellian yaitu
mode produksi ekonomi. Meskipun fenomena historis merupakan hasil dari
interplai dari berbagai komponen, dari kesemuanya itu bergantung pada variabel
ekonomi. Politik, hukum, filosofi, bahasa dan seni, semuanya bermuara pada
ekonomi. Semuanya berinteraksi antara satu dengan yang lain dengan basis
ekonomi. Relasi produksi adalah relasi antara individu dan individu yang lain
ketika menggunakan bahan-bahan mentah dan teknologi yang ada untuk mencapai tujuan-tujuan
produktif, membangun pondasi nyata dimana seluruh superstruktur budaya
masyarakat diciptakan. Dengan memunculkan konsep relasi produksi, Marx bukan
kemudian menganggap teknologi tidak memainkan peran penting, tetapi relasi
sosial manusia dalam keterlibatannya dengan kehidupan ekonomi. Mode ekonomi
produksi diekspresikan melalui hubungan antara individu yang bebas dan tidak
tunduk pada keinginan-keinginan dan tujuan-tujuan individu yang lain. Mode
produksi dari kehidupan material menentukan karakter umum dari proses-proses
sosial, politik dan spiritual dari kehidupan.
Individu lahir dalam masyarakat
dengan relasi-relasi kepemilikan yang sudah ditentukan. Relasi kepemilikan ini
akan bermuara pada kelas-kelas sosial yang berbada. Seperti halnya seseorang
tidak bisa memilih siapa ayahnya, begitu juga ia tidak dapat memilih masuk di
kelas yang mana. Ketika seseorang diwarisi kelas tertentu saat kelahirannya, ia
bisa menjadi seorang tuan, budak atau hamba, buruh atau seorang pemilik modal
(kapitalis), mode kelakukan sudah ditentukan baginya. Peran dalam kelas inilah
yang kemudian mendefinisikan seseorang. Individu-individu dalam hal ini adalah
personifikasi dari kategori-kategori ekonomi, yang mewujud dalam relasi kelas
dan kepentingan kelas tertentu. Marx memang fokus pada peran-peran kelas
sebagai determinan utama. Lokasi-lokasi yang berbeda dalam spektrum kelas akan
mengarahkan pada kepentingan kelas yang berbeda pula. Beberapa kepentingan
muncul bukan dari kesadaran kelas atau ketiadan kesadaran itu dalam diri
individu melainkan dari posisi obyektif dalam relasinya dengan proses produksi.
Individu bisa saja tidak menyadari kepentingan kelas mereka dan belum bisa
bergerak dari kepentingan-kepentingan yang ada di belakang mereka.
Konsep Marx tentang Kelas
Teori Marx tentang kelas berawal dari premis bahwa
‘sejarah dari masyarakat yang ada sekarang ini adalah sejarah perjuangan
kelas’. Dari pandangan ini, meskipun masyarakat berasal dari bentuknya yang
paling primitif dan relatif tidak ada pembedaan, tetap saja masyarakat tersebut
secara mendasar berdasarkan kelas dimana disana terdapat benturan-benturan
antara tuntutan dari kepentingan-kepentingan kelas. Dalam hal ini dicontohkan
Marx pada dunia kapitalis dimana inti dari sistem kapitalis, pabrik sebagai
lokus utama dari pertentangan antar kelas, antara yang dieksploitasi dengan
yang mengeksploitasi, antara pembeli dan penjual. Kepentingan kelas dan
konfrontasi kekuasaan yang mereka bawa, bagi Marx merupakan determinan dari
proses-proses sosial dan proses sejarah.
Analisis
marx selanjutnya berpusat pada bagaimana relasi antara individu dibentuk oleh
posisi mereka dalam produksi, dimana didalamnya terdapat akses yang berbeda
terhadap sumberdaya dan kekuasaan. Akses yang tidak setara akan mendorong kelas-kelas
ini untuk berjuang. Potensi konflik antar kelas sudah diwariskan dalam setiap
masyarakat yang berbeda. Hal ini dimungkinkan karena setiap masyarakat secara
sistematis menciptakan konflik antara orang-per orang, kelompok yang memang berbeda secara struktur sosial
terutama dalam relasinya dengan produksi. Kepentingan kelas hadir karena
pertemuan individu dengan posisi sosial tertentu dengan lingkungan sosial
tertentu. Di era industri awal, kompetisis membedakan kepentingan-kepentingan
personal “kerumunan orang yang tidak tahu satu sama lain...tetapi sistem
penggajian mereka, kepentingan bersama yang mereka perjuangkan ini, menciptakan
kebersamaan diantara mereka”. Setiap individu dari suatu kelas akan
merasakan pertentangan dengan kelas yang lain, mereka menjadi semacam musuh
antara satu dengan yang lain sebagai kompetitor.
Pasar
dan kompetisi mode produksi ditandai dengan kapitalisme yang berupaya
memisahkan individu dari produsennya. Marx menyatakan bahwa kaum kapitalis juga
sangat mungkin tidak mengikuti kepentingan pribadi mereka, tetapi ini hanya
mungkin terjadi dalam ranah politik dan ideologis dibandingkan dalam ranah
ekonomi. Kaum kapitalis terbagi oleh persaingan ekonomi diantara mereka sendiri
yang membentuk penyesuaian ideologis dan sistem dominasi politik yang
dibutuhkan untuk memenuhi kepentingan pribadi mereka. Negara adalah wujud
dimana individu-individu dari kelompok penguasa menyatakan
kepentingan-kepentingan mereka. Ide tentang kelompok penguasa adalah ide-ide
penguasa. Kekuatan politik dan ideologi dalam hal ini memainkan fungsi yang
sama bagi kaum kapitalis bahwa kesadaran kelas bekerja pada kelompok bekerja.
Kelas-kelas borjuis dan negara borjuasi serta ideologi borjuis dapat digunakan
untuk menjalankan kepentingan pribadi mereka sebagai kaum borjuis.
Konsep Marx tentang Alienasi
Dalam konsep Marx, sejarah manusia memiliki aspek ganda,
ia merupakan sejarah dari perkembangan penguasaan manusia terhadap alam dan sekaligus
sejarah pengasingan manusia. Alienasi digambarkan sebagai sebuah kondisi dimana
seseorang didominasi oleh kekuatan yang mereka ciptakan sendiri yang
menempatkan mereka sebagai satu kekuatan yang asing. Bagi Marx, semua ruang
dalam masyarakat kapitalis seperti agama, negara dan ekonomi politik, ditandai
dengan kondisi alieansi. Semua aspek ini, saling berkaitan. Objektifikasi
merupakan praktik dari alienasi. Seperti ketika seseorang tertarik pada suatu
agama, ia dapat mengobyektifikasi esensi dirinya sebagai seseorang yang asing
atau bahkan sesuatu yang fantastik, sehingga dalam kebutuhan yang bersifat
egoistik ini, ia dapat mengafirmasi dirinya dan menciptakan objek-objek untuk
mensubordinasi apa yang dihasilkannya dan apa yang dilakukannya pada sebuah
entitas dominan dan melengkapinya dengan sebuah entitas asing bernama uang.
Uang adalah esensi alienasi dari kerja dan eksistensi manusia, esensi yang
mendominasinya dan ia pun memujanya.
Alienasi dapat bekerja dalam 4
aspek yaitu: individu dialienasi dari objek yang diproduksinya, dari proses
produksi, dari dirinya sendiri dan dari komunitas dimana dia menjadi bagian
didalamnya. Alienasi muncul tidak semata dalam hasil, tetapi juga dalam proses
produksi dengan aktifitas produktif di dalamnya.
Analisis
keterasingan di dalam produksi kapitalis Marx bertolak dari fakta ekonomi
kontemporer. Fakta bahwa makin maju kapitalisme akan semakin miskin pulsa si
buruh. Kekayaan yang melimpah yang memungkinkan cara-cara produksi kapitalis
ditunjang oleh si pemilik tanah dan pemilik modal. Akan tetapi pemisahan si
buruh dengan dan hasil kerjanya sendiri ini bukan sekedar merupakan masalah
perampasan benda yang sebetulnya merupakan hak si buruh. Pokok Marx adalah di
dalam kapitalisme, obyek-obyek materiil yang diproduksi disejajarkan dengan si
buruh itu sendiri. Buruh bahkan menjadi komoditi yang lebih murah dengan
semakin banyaknya barang yang ia hasilkan. Devaluasi dunia manusia meningkat
secara langsung dalam kaitannya dengan meningkatnya dunia nilai benda.
Disinilah kemudian muncul distorsi yang kemudian disebut Marx dengan istilah
objektifikasi. Melalui pekerjaan, si buruh bertindak untuk mengubah sifat alam
dan produksinya yang merupakan hasil interaksi dengan dunia luar, selama ia
yang mengaturnya, akan tetapi di bawah kapitalisme, si buruh (subjek, pencipta)
telah membaur dengan produksinya (objek).
-Dwi Wulan Pujiriyani- (SPD/2015)

No comments:
Post a Comment