Tuesday, December 1, 2015

Doktrin Karl Marx



Doktrin-Doktrin Karl Max


 Lewis A Coser.1977. Master of Sociological Thought, Ideas in Historical and Social Context. 
Second edition. New York. Harcourt Brave Jovanovich, Inc.


Karl Max memunculkan konsep ‘society’ sebagai sebuah gerakan keseimbangan dari kekuatan antitesis yang melahirkan perubahan sosial dari adanya perjuangan-perjuangan dan ketegangan-ketegangan. Perjuangan bagi Marx merupakan mesin kemajuan, pertentangan merupakan induk dari segala sesuatu dan konflik sosial adalah inti dari proses historis. Manusia pada dasarnya adalah ‘hewan yang tidak pernah terpuaskan’. Ketika kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi, dia akan menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru dan produksi kebutuhan-kebutuhan yang baru ini adalah kejadian sejarah yang pertama kali. Dalam upaya memuaskan kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder, manusia akan berada dalam sebuah kerjasama yang antagonistik seperti halnya mereka meninggalkan keprimitifan, tahap komunal atau kebersamaan dari pembangunan. Setelah pembagian kerja muncul dalam masyarakat, pembagian ini mendorong munculnya bentuk-bentuk pertentangan kelas. Kategori-kategori dan ide-ide tidak lebih abadi dari relasi-relasi yang ada. Kategori-kategori dan ide-ide adalah produk-produk sejarah yang sementara. Ketika ahli-ahli ekonomi klasik melihat adanya pembagian tripartite antara pemilik tanah, kapitalis dan pencari upah sebagai tatanan alamiah yang given, Marx melihatnya sebagai sebuah hubungan-hubungan dari keadaan yang secara historis bersifat sementara. Kekhususan sejarah adalah cirikhas pendekatan Marx. Anatomi masyarakat sipil harus dilihat secara politik ekonomi. 


 http://spartacus-educational.com


Perubahan sistem-sistem sosial bagi Marx, tidak dapat dijelaskan oleh faktor-faktor yang bukan sosial seperti: geografi atau iklim, karena perubahan ini sebenarnya relatif konstan ketika berhadapan dengan sebagian besar perubahan-perubahan historis. Marx mempelajari pendekatan holistik dari Hegel dan Montesquieu. Menurut marx, masyarakat secara struktural berkaitan dengan keseluruhan. Oleh karena itulah, setiap aspek dari keseluruhan baik itu prinsip-prinsip hukum, sistem-sistem pendidikan, agama, maupun seni, tidak dapat dipahami dari dalam unsur-unsur tersebut. Masyarakat, tidak hanya dibentuk oleh keseluruhan tetapi juga membangun keseluruhan tersebut. Dalam hal ini kontribusi Marx adalah dalam mengidentifikasi variabel-variabel bebas yang memainkan bagian minor dari sistem Hegellian yaitu mode produksi ekonomi. Meskipun fenomena historis merupakan hasil dari interplai dari berbagai komponen, dari kesemuanya itu bergantung pada variabel ekonomi. Politik, hukum, filosofi, bahasa dan seni, semuanya bermuara pada ekonomi. Semuanya berinteraksi antara satu dengan yang lain dengan basis ekonomi. Relasi produksi adalah relasi antara individu dan individu yang lain ketika menggunakan bahan-bahan mentah dan teknologi yang ada untuk mencapai tujuan-tujuan produktif, membangun pondasi nyata dimana seluruh superstruktur budaya masyarakat diciptakan. Dengan memunculkan konsep relasi produksi, Marx bukan kemudian menganggap teknologi tidak memainkan peran penting, tetapi relasi sosial manusia dalam keterlibatannya dengan kehidupan ekonomi. Mode ekonomi produksi diekspresikan melalui hubungan antara individu yang bebas dan tidak tunduk pada keinginan-keinginan dan tujuan-tujuan individu yang lain. Mode produksi dari kehidupan material menentukan karakter umum dari proses-proses sosial, politik dan spiritual dari kehidupan.
Individu lahir dalam masyarakat dengan relasi-relasi kepemilikan yang sudah ditentukan. Relasi kepemilikan ini akan bermuara pada kelas-kelas sosial yang berbada. Seperti halnya seseorang tidak bisa memilih siapa ayahnya, begitu juga ia tidak dapat memilih masuk di kelas yang mana. Ketika seseorang diwarisi kelas tertentu saat kelahirannya, ia bisa menjadi seorang tuan, budak atau hamba, buruh atau seorang pemilik modal (kapitalis), mode kelakukan sudah ditentukan baginya. Peran dalam kelas inilah yang kemudian mendefinisikan seseorang. Individu-individu dalam hal ini adalah personifikasi dari kategori-kategori ekonomi, yang mewujud dalam relasi kelas dan kepentingan kelas tertentu. Marx memang fokus pada peran-peran kelas sebagai determinan utama. Lokasi-lokasi yang berbeda dalam spektrum kelas akan mengarahkan pada kepentingan kelas yang berbeda pula. Beberapa kepentingan muncul bukan dari kesadaran kelas atau ketiadan kesadaran itu dalam diri individu melainkan dari posisi obyektif dalam relasinya dengan proses produksi. Individu bisa saja tidak menyadari kepentingan kelas mereka dan belum bisa bergerak dari kepentingan-kepentingan yang ada di belakang mereka.

Konsep Marx tentang Kelas

Teori Marx tentang kelas berawal dari premis bahwa ‘sejarah dari masyarakat yang ada sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas’. Dari pandangan ini, meskipun masyarakat berasal dari bentuknya yang paling primitif dan relatif tidak ada pembedaan, tetap saja masyarakat tersebut secara mendasar berdasarkan kelas dimana disana terdapat benturan-benturan antara tuntutan dari kepentingan-kepentingan kelas. Dalam hal ini dicontohkan Marx pada dunia kapitalis dimana inti dari sistem kapitalis, pabrik sebagai lokus utama dari pertentangan antar kelas, antara yang dieksploitasi dengan yang mengeksploitasi, antara pembeli dan penjual. Kepentingan kelas dan konfrontasi kekuasaan yang mereka bawa, bagi Marx merupakan determinan dari proses-proses sosial dan proses sejarah.
           Analisis marx selanjutnya berpusat pada bagaimana relasi antara individu dibentuk oleh posisi mereka dalam produksi, dimana didalamnya terdapat akses yang berbeda terhadap sumberdaya dan kekuasaan. Akses yang tidak setara akan mendorong kelas-kelas ini untuk berjuang. Potensi konflik antar kelas sudah diwariskan dalam setiap masyarakat yang berbeda. Hal ini dimungkinkan karena setiap masyarakat secara sistematis menciptakan konflik antara orang-per orang, kelompok yang  memang berbeda secara struktur sosial terutama dalam relasinya dengan produksi. Kepentingan kelas hadir karena pertemuan individu dengan posisi sosial tertentu dengan lingkungan sosial tertentu. Di era industri awal, kompetisis membedakan kepentingan-kepentingan personal “kerumunan orang yang tidak tahu satu sama lain...tetapi sistem penggajian mereka, kepentingan bersama yang mereka perjuangkan ini, menciptakan kebersamaan diantara mereka”.  Setiap individu dari suatu kelas akan merasakan pertentangan dengan kelas yang lain, mereka menjadi semacam musuh antara satu dengan yang lain sebagai kompetitor.
           Pasar dan kompetisi mode produksi ditandai dengan kapitalisme yang berupaya memisahkan individu dari produsennya. Marx menyatakan bahwa kaum kapitalis juga sangat mungkin tidak mengikuti kepentingan pribadi mereka, tetapi ini hanya mungkin terjadi dalam ranah politik dan ideologis dibandingkan dalam ranah ekonomi. Kaum kapitalis terbagi oleh persaingan ekonomi diantara mereka sendiri yang membentuk penyesuaian ideologis dan sistem dominasi politik yang dibutuhkan untuk memenuhi kepentingan pribadi mereka. Negara adalah wujud dimana individu-individu dari kelompok penguasa menyatakan kepentingan-kepentingan mereka. Ide tentang kelompok penguasa adalah ide-ide penguasa. Kekuatan politik dan ideologi dalam hal ini memainkan fungsi yang sama bagi kaum kapitalis bahwa kesadaran kelas bekerja pada kelompok bekerja. Kelas-kelas borjuis dan negara borjuasi serta ideologi borjuis dapat digunakan untuk menjalankan kepentingan pribadi mereka sebagai kaum borjuis.

Konsep Marx tentang Alienasi

Dalam konsep Marx, sejarah manusia memiliki aspek ganda, ia merupakan sejarah dari perkembangan penguasaan manusia terhadap alam dan sekaligus sejarah pengasingan manusia. Alienasi digambarkan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang didominasi oleh kekuatan yang mereka ciptakan sendiri yang menempatkan mereka sebagai satu kekuatan yang asing. Bagi Marx, semua ruang dalam masyarakat kapitalis seperti agama, negara dan ekonomi politik, ditandai dengan kondisi alieansi. Semua aspek ini, saling berkaitan. Objektifikasi merupakan praktik dari alienasi. Seperti ketika seseorang tertarik pada suatu agama, ia dapat mengobyektifikasi esensi dirinya sebagai seseorang yang asing atau bahkan sesuatu yang fantastik, sehingga dalam kebutuhan yang bersifat egoistik ini, ia dapat mengafirmasi dirinya dan menciptakan objek-objek untuk mensubordinasi apa yang dihasilkannya dan apa yang dilakukannya pada sebuah entitas dominan dan melengkapinya dengan sebuah entitas asing bernama uang. Uang adalah esensi alienasi dari kerja dan eksistensi manusia, esensi yang mendominasinya dan ia pun memujanya.
Alienasi dapat bekerja dalam 4 aspek yaitu: individu dialienasi dari objek yang diproduksinya, dari proses produksi, dari dirinya sendiri dan dari komunitas dimana dia menjadi bagian didalamnya. Alienasi muncul tidak semata dalam hasil, tetapi juga dalam proses produksi dengan aktifitas produktif di dalamnya.
           Analisis keterasingan di dalam produksi kapitalis Marx bertolak dari fakta ekonomi kontemporer. Fakta bahwa makin maju kapitalisme akan semakin miskin pulsa si buruh. Kekayaan yang melimpah yang memungkinkan cara-cara produksi kapitalis ditunjang oleh si pemilik tanah dan pemilik modal. Akan tetapi pemisahan si buruh dengan dan hasil kerjanya sendiri ini bukan sekedar merupakan masalah perampasan benda yang sebetulnya merupakan hak si buruh. Pokok Marx adalah di dalam kapitalisme, obyek-obyek materiil yang diproduksi disejajarkan dengan si buruh itu sendiri. Buruh bahkan menjadi komoditi yang lebih murah dengan semakin banyaknya barang yang ia hasilkan. Devaluasi dunia manusia meningkat secara langsung dalam kaitannya dengan meningkatnya dunia nilai benda. Disinilah kemudian muncul distorsi yang kemudian disebut Marx dengan istilah objektifikasi. Melalui pekerjaan, si buruh bertindak untuk mengubah sifat alam dan produksinya yang merupakan hasil interaksi dengan dunia luar, selama ia yang mengaturnya, akan tetapi di bawah kapitalisme, si buruh (subjek, pencipta) telah membaur dengan produksinya (objek). 

-Dwi Wulan Pujiriyani- (SPD/2015)

                               

No comments:

Post a Comment

Pemuda dan Pertanian

Pemuda dan Pertanian di Malawi Blessing Chinsinga dan Michael Chasukwa. 2012. ‘Youth, Agriculture and Land Grabs in Malawi’. IDS...